Hari itu mendung..
Orang-orang mulai menggerutu;
“Cucianku nggak kering-kering”
“Ah, malas sekali di rumah”
Kenapa begitu?
Apakah Sang Matahari sedang menangis..
Ahhh..panasnya bara yang seharusnya menguapkan air mata itu ternyata masih kalah oleh kegetiran jiwanya.
Begitu kata orang-orang.
***
Lalu ada seorang ibu muda, usianya 27 tahun, wajahnya manis, dan ia menangis..
Melihat anak-anak di jalanan yang seharusnya bersekolah pada jam itu..
“Nak, kenapa kamu ada di sini, seharusnya kamu sekarang belajar”
Si anak kecil bilang;
“Aku harus disini Mbak, cari uang..kalo nggak nanti serumah nggak bisa makan”
Lalu ibu itu memberikan uang dan bungkusan makanan yang ia miliki. Ia tau itu bukan cara yang mendidik karena dengan cara itu si anak akan meminta-minta terus, namun ia tak sampai hati melihat anak itu..
Ia berpikir seharusnya anak-anak itu belajar…tapi bagaimana caranya?
***
Menlanjutkan perjalanan dan melihat nenek-nenek..
Usia senja, dan seharusnya ia bersama keluarga yang ia cintai..
Tinggal di panti jompo adalah pilihannya sendiri, karena ia tak ingin merepotkan anak-anak yang sudah punya keluarga masing-masing.
Suaminya meninggal sudah lama..
Dan ia memilih di panti jompo, bersama teman-temannya yang lain, sekedar merajut atau membuat kue, dirinya berkata bahwa ia ingin bermanfaat, walaupun itu kecil..
***
Di jalan..
ia melihat kebakaran di sebuah pertokoan..dan kebakaran itu meluas sampai membakar rumah-rumah di sekitarnya..
ia melihat orang-orang yang bersedih karena kehilangan rumah tempat tinggal mereka..
Dan tak ada apapun yang bisa dilakukannya selain menonton…
***
Sampai rumah, ia capek…
Merebahkan badan sebentar;
Anaknya yang paling besar berkata;
“Bunda..bunda kenapa? Kecapekan ya Bunda…”
“Kok seperti habis menangis, Bun?”
Perempuan itu berkata;
“Ia Nak..bunda sedih melihat ketidakadilan..kasian orang-orang itu”
Si anak berkata;
“Bunda..jangan sedih, ini PRnya sudah Mas kerjain..tolong diperiksa dong, Bun”
“Bunda jangan menangis dong…nanti ga bisa merika PR Mas..kan kata Bunda, Mas harus ngerjain PR”
***
Perempuan itu tersenyum.
Bahwa sedih, apapun itu tak boleh membuat lemah…ada tugas-tugas yang harus dilakukan.
Bahwa matahari tak boleh menangis.
Karena matahari itu punya komitmen, untuk menyinari, tanpa lelah, tanpa pamrih.
(Catatan: kumpulan kisah yang akan kumasukkan dalam
catatan Bunda;
“Anakku Sayang, Aku Mencintaimu Sebelum Kau Ada Hingga Akhir Masa”)