Nggak menyangkal, aku pun suka nonton infotainment. Seminggu nggak nonton kayaknya udah ketinggalan berita..tersesat di pulau manaaaa gitu :D.
Namun, setelah ditelaah lebih lanjut, aku jadi bertanya-tanya; dengan porsi siaran sebesar itu, perlukah infotainment terus eksis?
Pertama, okelah.
Kita nggak menyangkal bahwa yang namanya public figure itu adalah sorotan (dan terkadang panutan). Masyarakat selalu menunggu kabar terbaru dari public figure favoritnya.
Sebenarnya yang namanya public figure atau selebritis nggak hanya artis -yang notabene berprofesi sebagai bintang film, sinetron, penyanyi, musisi, presenter kondang- tapi juga politikus dan olahragawan. Meskipun begitu harus diakui masyarakat kita preference-nya lebih tinggi untuk mengidolakan artis dibanding politikus dan olahragawan.
Hal itu yang melatarbelakangi adanya program infotainment.
Kedua, Indonesia mengusung kebebasan berpendapat dan termasuk kebebasan pers. Inilah yang menyebabkan infotainment berkembang dan bahkan telah menjamur di Indonesia.
Logis memang, ada infotainment sebanyak ini. Yang jadi pertanyaan adalah apa pengaruhnya terhadap sikap mental masyarakat kita? Pantaskah infotainment diberi porsi sebanyak sekarang ini?
Menurut pendapatku pribadi,
nggak pantas orang melucuti aib orang lain seintens itu. Kesalahan artis, kekurangannya di masa lalu dilucuti seperti kita mengupas kulit pisang. Bahwa si A hamil karena si B, si C selingkuh dengan si D, si E simpanannya si F, si X bukan anak kandung pengacara kaya Y, si M berantem sama orang tuanya sendiri, si Z bahasa Inggrisnya malu-maluin..
Ugh!! Buat apa sih kita terlalu suka melihat kejelekan dan penderitaan orang lain???
Waspadalah!
Sedikit demi sedikit masyarakat kita terpola seperti itu. Orang cenderung lebih senang melihat kejelekan dan penderitaan orang lain dan tidak suka terhadap kesuksesan orang lain.
Aku heran, kenapa yang lebih banyak disorot bukan bagaimana perjuangan si artis sehingga menjadi artis besar, apa kiat-kiatnya, bagaimana dia survive..kemudian mengajak orang lain agar bisa semaju dia.
Dan kenapa kita tidak berpikir positif terhadap kebahagiaan dan kesuksesan orang lain?
Apakah hal seperti ini tidak menarik jadi berita?
Dan kalau sikap bermasyarakat kita menjadi sedemikian bobroknya..karena terbiasa dicekoki tayangan-tayangan seperti itu sehingga orang cenderung kurang menghargai kerja keras, malahan iri dan dengki.. siapa yang akan bertanggung jawab?
