Dear diary,
Kali ini, aku ingin bercerita tentang persahabatan berjuta musim, tentang bagaimana manusia bisa menyentuh hidup manusia lain dengan caranya sendiri. Cara yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun juga.
Ini adalah sebuah cerita tentang persahabatan, tentang aku, Luna, dan Bintang. Persahabatan kami unik, karena aku siang, dan mereka malam.
Luna, bukan nama sebenarnya, perempuan, 24 tahun.
Pertemuan kami dimulai ketika aku melihat dia menyeberang jalan di bilangan Graha Sabha UGM, dia sedikit berlari, kemudian masuk ke ruangan tempat kami dan teman-teman lain berkumpul.
Namanya tidak pasaran, bahkan sedikit susah diucapkan. Nama panjangnya cantik, dia perempuan berkulit bersih dan menarik.
Lalu dimulailah hari-hari dimana kami bisa saling menyelami diri masing-masing.
Aku tidak bisa tidak mengagumi dia, dengan kemurahan hatinya, percaya dirinya, kecerdasannya, pengertiannya, sikapnya terhadap hidup dan sesamanya. Dia wanita hebat yang membuat aku beruntung mengenalnya.
Berlebihan? Ah, tidak. Tanya saja pada Bintang :).
Bintang, bukan nama sebenarnya, laki-laki, 25 tahun.
Pertama kali kukira dia adalah laki-laki yang dingin dengan tatapan mata yang tajam. Namun dugaanku ternyata salah. Hatinya hangat dan dia tipikal orang yang “hidup”.
Pengalamanku dengannya cukup kompleks, dia laki-laki romantis dan berjiwa besar. Baik hati, seperti Luna. Bahkan sangat.
Dia tidak selalu kelihatan, tapi dia selalu ada. Selalu membuat Luna merasa nyaman, itulah dia.
Bintang, adalah orang yang menyebutku Matahari. Meyakinkanku bahwa aku tidak perlu merasa tidak pantas disebut begitu.
Buatku, mengenal Luna dan Bintang adalah tentang bagaimana mereka mengajariku untuk lebih menyukai hidup. Untuk menikmati setiap sudutnya -menurut Luna-, dan setiap perjalanannya -menurut Bintang-.
Mereka melakukannya tanpa kata, dengan cara yang wajar, dewasa dan jelas.
Bahwa jika pikiran kita hanya ke tujuan, kita malahan mengerdilkan diri kita sendiri karena tak bisa menikmati proses. Sedang sukses tak pernah berupa suatu akhir dan kegagalan tak pernah mematikan.
Bahwa di setiap saatnya, di setiap geraknya, adalah syukur yang luar biasa pada HIDUP dan KEHIDUPAN itu sendiri.
Apabila kita merasa berterima kasih, tentu kita tidak akan menyia-nyiakan suatu hal, dan ketika itulah kita akan memberikan yang terbaik dengan hati gembira. Tulus, tanpa berharap sesuatu.
Yaahh..begitulah secumik tuturku tentang mereka :).Â
Seumur hidup,
orang pasti akan bertemu dengan orang-orang yang membuat mereka kagum. Mungkin sedikit jumlahnya, mungkin juga banyak.
Buatku, Luna dan Bintang di antaranya :).