“Kok mau sih Pak, kerja di subkon terus?”
Begitu pertanyaanku, pada seorang rekan kerja senior yang baru saja interview untuk sebuah subkon laen. Tentu saja dia ditolak, karena subkon itu service untuk vendor yang sama dengan subkon kami bekerja.
“Lha duitnya banyakan di sini, Mbak,” jawabnya.
Dia adalah engineer yang sudah banyak pengalaman. Brilian. Site on-air belum sampai seminggu, dia sudah bisa handle, sudah pula dioptim dan direport ke operator. KPI sudah achieved. Bisa dikatakan, naluri GSMnya sudah top.
Lalu, dia berencana pindah untuk mencoba ke proyek 3G :).
“Memang, di subkon pressurenya lebih tinggi. Kalau mau nyante tu ya di vendor Mbak, atau di operator sekalian, paling nyante tuh,” dia menambahkan.
Iya sih, di operator untuk proyek yang sedang kami kerjakan saat ini, karyawan biasa pulang jam 17.00, sementara kami masih harus bekerja keras untuk mereka. Aku sendiri paling cepat pulang jam 19.00, nggak jarang di atas jam 21.00 bahkan pernah sampai jam 23.00 karena load kerjaan emang lagi banyak. Sabtu-minggu kalau memang dibutuhkan aku juga ngantor.
Karyawan subkon adalah karyawan kontrak, jarang ada subkon dengan sistem permanen. Sedang menurut UU Ketenagakerjaan, karyawan tidak boleh dikontrak melebihi 2 tahun. Sehingga sebelum 2 tahun harus cabut atau minta status permanen. Kalau nasib sedang nggak beruntung, posisi kita bekerja bisa diganti subkon laen yang tendernya menang. Itu bisa terjadi, karena pada saat roll out sebuah proyek, vendor menenderkan proyek tersebut ke subkon. Subkon mendapatkan fee karena karyawan mereka bekerja untuk vendor.
Seorang teman kuliah dari jurusan laen, dia bekerja sebagai karyawan permanen di vendor tempat aku bekerja dulu. Begitu dia tau, perusahaanku service di operator incarannya, dia berkata, “Bagi-bagi info yaaa..”
Posisinya sudah bagus di vendor tersebut. Dia berencana menikah beberapa bulan lagi. Dengan alasan, ingin melayani keluarga dengan maksimal, dia memilih untuk end-up di operator. “Keluarga lebih penting kan Ma,” begitu katanya. Dan aku mengiyakan :).
Saat farewell-ku di kantor lama, teman kerjaku yang laen, pria 27 tahun, bekerja sebagai Planning Engineer dan sudah berkeluarga berkata, “Sampai ketemu di operator ya!!”Â
Kami nggak pernah bikin kesepakatan untuk ke operator namun kami sering lembur sampai malam, dan kadang merasa bersalah pada keluarga atau orang-orang terdekat kami.
Mungkin suatu saat aku pun akan ke operator, ke tempat raja (atau klien?)Â yang memiliki kapital dan tinggal menyuruh menteri atau pion-pionnya untuk bekerja :D.
Tapi saat ini, Insya Allah sampai bertahun-tahun ke depan, bekerja di vendor atau subkon masih jadi pilihanku. Aku masih ingin belajar banyak, ingin tau dan punya naluri tentang teknis maupun manajemen telco, ingin mendidik diriku sendiri untuk bekerja dengan pola yang benar. Semua itu harus siap dulu, dan disini kesempatan untuk itu terbuka lebar :).Â