Ma, Insya Alloh aku mau nikah besok tanggal 5 Agustus jam 9, walimahnya di rumah. Datang ya. Miss U.
Begitu sms darinya, sahabatku sejak SMP.
Aku kaget sekaligus senang sekali mendengar kabar bahagia ini.
Lalu kutelpon dia, ibunya menerima duluan. Karena sudah akrab, beliau lalu bercerita macam-macam, sekaligus bertanya kabarku sekarang.
Kami dulu sebangku selama 3 tahun di SMP. Karena SMA berbeda sekolah, kami sudah jarang kumpul-kumpul lagi. Jarak tempat dan waktu, tidak membuat persahabatan kami renggang. Dia tau apa yang terjadi dalam hidupku, begitupun aku.Â
Semua mendadak, katanya. Aku bertanya bagaimana dia bisa memutuskan untuk menikah hanya dalam masa perkenalan 1,5 bulan. Lalu dia menceritakan bagaimana prosesnya. Aku sangat senang mendengar nada suaranya yang penuh kebahagiaan.
Namanya Sahandani Palupi, kami memanggilnya Pipit. Ulang tahunnya hanya berselang 3 hari sesudahku. Ayahnya meninggal mendadak karena serangan jantung ketika ia berumur 6 tahun dan ibunya tidak pernah menikah lagi. Ia punya adik laki-laki yang terpaut 3 tahun darinya. Ia tidak pernah melanjutkan kuliah, karena memang tidak ada biaya. Kemudian dia bekerja sebagai guru TK sampai sekarang. Kepribadiannya sangat cocok untuk menjadi guru.
Dia menanyakan keadaanku dan apakah aku kerasan tinggal di kota yang tak pernah istirahat ini. Yah, memang keadaan Jakarta begitu, Pit..
Tapi nggak lupa sama ALLOH kan..
Ingatnya :).
Pipit, Pipit..
Sepanjang aku bersahabat dengannya.. tak pernah kudengar sekalipun dia mengeluh, mengapa begini, mengapa begitu, mengapa ia tak bisa kuliah seperti teman-teman seumurnya.
Masih kuingat dulu, dia sering menunjukkan foto ayahnya, dan bagaimana ayahnya meninggal. Dia bercerita dengan tersenyum.
Aku sangat bangga padanya.
Pipit, selamat menempuh hidup baru. Semoga kalian mendapatkan kebahagiaan dalam suka dan duka.
Tunggu aku di Solo.



 
