Aug 30

Ramadhan akan datang lagi.
Semoga kita masih bisa bertemu Ramadhan tahun ini.

Terima kasih telah bersamaku di Ramadhan tahun lalu.
Itu Ramadhan terbaik sepanjang hidupku.

“Semoga kamu memang termasuk orang yang beruntung,” begitu katamu dulu.
Amin, semoga kita memang begitu.

You’re just too good to be true.

Maafkan aku tak sempurna, Ayah.

Aug 23

Bekerja dan berorganisasi. Bisakah? Pentingkah?

FAM PII kembali melamarku untuk pengurus harian. Kali ini FAM PII Pusat, karena dulu aku aktif di cabang Yogyakarta.
Awalnya aku menolak untuk berperan seperti itu. Terus terang aku bukan gila jabatan. Fokusku sekarang lebih ke karir dan keluarga. Namun karena mereka mendesak, akhirnya aku mengalah.

Pada awalnya aku masih menjalani setengah hati, tapi di Jakarta untuk kumpul aja udah sulit.
Aku harus tidak boleh setengah hati.

Banyak orang penting di PII Pusat.

Jujur saja, aku belum ketemu jawabannya kenapa aku berorganisasi lagi. Memperbaiki kondisi? Sejauh apa bisa berpengaruh? Atau berprestasi untuk aktualisasi diri sendiri? Semoga ke depannya aku jadi lebih tau sehingga semangatku semakin naik.
Sekarang hanya ingin menjalankan amanah sebaik-baiknya saja. Bismillah.

Aug 18

Beberapa hari yang lalu, profile friendsterku tiba-tiba kosong. No display gitu. Padahal waktu login ke home biasa aja, nggak ada perubahan apa-apa. Sempat menghubungi help-desknya Friendster di help@friendster.com ternyata tidak mendapat respon optimal, cuma disuruh reply-reply aja, udah direply masih enggak ditanggapin.

Trus aku telusuri accountku, masuk ke shoutoutnya, aku temuin tag buat display kosong setiap page.

Kudelete tag itu, dan kuganti tulisan yang lain. Akhirnya profileku bisa kebaca lagi. Wah, ternyata Friendster bisa kemasukan bug kayak gitu ya.

Aug 15

Terkadang,
keberanian yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mencoba lagi, keberanian untuk tetap berjalan dengan kepala tegak, dan keberanian untuk selalu tersenyum dan berbuat yang terbaik dalam setiap kondisi.

Aug 14

Tengah malam.
Rutinitas menjadi BSC guard masih berlangsung. Network harus tetep under control. Entah apa jadinya network kalau nggak ada kami ya *GR dikit boleh lah*.

Pekerjaan harus membuat bangga. Walaupun tengah malam ngantor dan kerja dengan sistem shift kayak gini, tapi tetep happy. Pagi ini sampai siang meeting, makan - istirahat - mengurus beberapa hal dalam beberapa jam, menjelang sore hingga tengah malam bekerja. Hajar saja!! :D

Sumbagut. Sumbangteng. East Java. Balinusra. Balikpapan. Sumalirja.
Luas juga ya :). Kata Mas Andhi, Indonesia cuma selebar laptop. Bedanya aku di P3Knya network, dia mainan parameter :).

Aku emang masih dummies banget, masih banyak yang harus kuketahui.
Tapi sekarang ini sudah lebih baik daripada kemarin-kemarin. Belum bisa dikatakan ahli sih, belum kayak yang Mbak Merry bilang.

Hmmm..
Saat ini, aku ingin lebih menyederhanakan hidup.
Membuang pikiran-pikiran yang nggak perlu, energi itu alangkah lebih baik kalau digantikan dengan yang lebih produktif.

Keinginan untuk dipuji itu harus dilenyapkan, mindset harus diubah dari suka dilayani menjadi suka melayani.
Yup, setidaknya melayani network.

Jujur aja,
Saat bangun tidur, kadang perasaan sedih masih ada.. Tertawa getir, marah, atau belum bisa melepaskan kegagalan.
Tapi mengapa harus begitu? Sedangkan aku punya banyak hal untuk disyukuri.
Kesehatan, pekerjaan, orang tua yang masih ada, pasangan, teman, sahabat.. semua itu mahal harganya!! Teramat mahal malah!! Sungguh tak ada alasan!!
Aku cuma mellow aja.. Cuma sedang tidak memaklumi kesalahan dan kekurangan.
Mellow bukan berarti jelek, banyak karya sastra yang tercipta dari jiwa yang sedang mellow. Hanya mellow itu harus disikapi dengan hati-hati.

Entahlah, apakah karena ini malam-malam sehingga aku jadi mellow?

Ya Afuww.. Yang Maha Pemaaf.

Bikin nescafe aja ah :). Mulai ngaco pikirannya :D.

Aug 8

Artikel ini diambil dari milis Klub Bisnis & Manajemen

Apakah Anda termasuk eksekutif yang mudah cemas dan berkata :”Saya merasa seperti dikejar target,” ataukah selalu optimis dan berkata :”Saya menyukai tantangan baru.”
Penelitian Salvatore R. Maddi dan Suzanne C. Kobasa : The Hardy Executive : Health Under Stress (Homewood, IL, Dow Jones-Irwin, 1984) menunjukkan bahwa mereka yang mananggapi stress dengan kesabaran, memandang pekerjaan sebagai tantangan yang menyenangkan, memandang perubahan sebagai peluang bertumbuh, mampu menghadapi stress secara lebih baik dan berhasil melewatinya tanpa kesulitan yang berarti.
Seolah merupakan paradoks, sebuah peristiwa (baca : pekerjaan) yang sama, dapat dipersepsikan berbeda tergantung dari cara seseorang men-sikapinya, apakah menggunakan pemahaman yang tepat atau sebaliknya. Demikian pula apakah peristiwa tersebut diinginkan ataupun tidak.
Sebuah peristiwa yang menegangkan apakah berupa target penjualan, deadline projek, pengembangan produk baru dsb. jika disikapi secara tepat dapat dianggap sebagai sebuah tantangan yang mengasyikkan. Apalagi jika peristiwa tersebut diberi muatan emosi menjadi suatu sasaran yang kita inginkan.
Jika stimuli dipersepsikan sebagai sebuah ancaman …. biasanya rasa tegang muncul dalam bentuk rasa cemas, takut, bahkan fobia. Pada situasi seperti ini kadar hormon Kortisol (hormon penyebab stress) dalam darah akan meningkat. Sebaliknya jika stimuli tersebut dipersepsikan sebagai sebuah tantangan maka ketegangan tersebut dirasakan sebagai hal yang menggembirakan dan menyenangkan. Dalam keadaan seperti ini hormon pengendali stress Dehydroepiandroster one-S (DHEA-S) yang justru meningkat.
Seseorang yang memahami kesuksesan sebagai sebuah proses pembelajaran dan bekerja dengan hati yang gembira, berpotensi tumbuh dan meraih prestasi terbaiknya.
Itu sebabnya “kecerdasan sikap” sebagai sebuah pengetahuan dan keterampilan hidup perlu dikenalkan kepada karyawan sejak dini. 

Tulisan dari:

Isywara Mahendratto