Saya sudah mengenal PII sejak masih kuliah di Jogja, yaitu tahun 2004 saat PII cabang Yogya membuka FAM (Forum Anggota Muda) PII, yaitu: Sarjana Teknik kurang dari 35 tahun dan mahasiswa yang telah menempuh 120 sks.
Ketika itu saya belum familiar organisasi yang sudah berdiri sejak tahun 1952 itu. Bahkan saya baru saja mendengar namanya.
Ternyata itu pula yang terjadi di masyarakat umum. PII tidak terdengar. Gaungnya sangat jauh dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Mengapa bisa begitu? Padahal di Singapura, Malaysia, dan Australia PII sangat populer?
Interaksi dan Publikasi
Ambil contoh IDI. Seorang teman wartawan pernah bercerita kepada saya, bahwa orang IDI itu ada yang dilantik dokter saja mengundang wartawan. Belum lagi karena profesi dokter yang langsung berhadapan dengan praktek di masyarakat. Sangat bersentuhan. Tak heran, organisasi profesi ini sedemikian populer.
Lalu bagaimana dengan PII?
PII sangat bersentuhan dengan profesi insinyur. Kuliah Engineering Ethics menjelang seorang mahasiswa teknik diwisuda melibatkan PII.
PII mengadakan berbagai training dan pelatihan. Seperti Kursus Pembinaan Profesi (KPP) yang merupakan program rutin PII se-Indonesia dan juga program-program lain sesuai dengan rancangan PII di daerah tersebut.
PII juga mengadakan sertifikasi keahlian bagi para insinyur yang konsisten di dunia keinsinyuran. Sertifikasi Insinyur Profesional Pratama (IPP), Insinyur Profesional Madya (IPM), dan Insinyur Profesional Utama (IPU) mungkin belum banyak dimiliki orang. Namun di beberapa bidang pekerjaan, sertifikasi itu menjadi value-added bagi seorang insinyur.
Antara Sarjana Teknik dan Insinyur
Dulu kuliah teknik itu ada pendidikan profesi di akhir masa studi. Inilah yang sekarang dihilangkan dari lulusan Fakultas Teknik di Perguruan Tinggi di Indonesia. Inilah beda antara Sarjana Teknik dan Insinyur.
Sekarang, lulusan Teknik Sipil hanya bisa berkata bahwa dia lulus dari jurusan Teknik Sipil. Tidak bisa berkata seperti Si Doel, “Saya ini Insinyur” :D.
Ya. Walau name tag kantornya memang tertulis “Engineer”, namun ternyata itu masih belum menjadikannya berkata dan dikenal masyarakat sebagai insinyur.
Seorang yang bekerja di dunia teknik dan seorang insinyur.
Beda artikulasi dan maknanya. Justru menurut saya, sebutan insinyur di zaman dulu itu sudah yang terbaik :).
“Kamu kalau besar ingin jadi apa?”
“Jadi insinyur Ma”
Dan bukan,
“Ingin bekerja di perusahaan teknik”
Beda kan?? 
Insinyur itu lebih pada etika dan sikap profesi.
Dengan banyaknya orang penting di negeri ini yang berkiprah di PII (Hatta Rajasa, Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Fauzi Bowo, Kusmayanto Kadiman, Wiranto Arismunandar, Purnomo Yusgiantoro, Rachmat Witoelar, dll), semua orang yang peduli berharap bisa membawa nama PII sampai pada grassroot, sampai ke orang awam.
Dan semoga PII bisa membawa kemajuan bagi negeri tercinta kita ini. Lebih baik dari sebelumnya.
Luv u Indonesian Engineers