Selepas shift malam, tanggal 17 pagi saya menunggu jemputan dari kantor. Alhamdulillah, jam 7 pas pekerjaan kami ketika itu sudah selesai, sehingga handover ke shift berikutnya menjadi lancar.
Ternyata sopir yang seharusnya menjemput kami tak datang-datang. Beberapa kali ditelpon tak ada jawaban, saya pun memutuskan untuk pulang sendiri.
Naik busway lalu disambung taksi, begitulah rutenya. Saya mengambil taksi yang paling cepat datang. Lalu ketika sampai dekat kos, saya hendak membayar, sopir berkata tidak punya kembalian. Lalu saya tukarkan dulu di warteg sembari saya meninggalkan tas laptop saya (saya bawa 2 tas, tas pundak dan tas laptop yang dijinjing). Jujur aja, saya memang capek dan ngantuk banget karena belum tidur semalaman sehingga saya sengaja meninggalkan laptop itu duluan (ini berbeda dengan kebiasaan saya, biasanya saya tak pernah meninggalkan tas saya).
Saya membayar dan tak sadar ternyata saya lupa mengambil tas laptop saya.
Begitulah lalu saya makan..dan saya baru sadar sekitar 15 menit.
Saya pergi bertanya ke warteg dan orang disana sempat melihat sopir taksi tersebut membawa tas saya. Saat itu saya masih positive thinking bahwa dia berniat mengembalikan tas saya. Ini saya buktikan dengan menceritakan bahwa sopir itu berniat mengembalikan dengan menampakkan diri di warteg itu, tapi saya tak ada.
Lalu saya menelpon perusahaan taksi ini. Sayangnya saya tak ingat lagi nomornya karena capek dan ketika itu terpikir tugas yang akan saya lakukan kemudian. Ini sulit dilacak bagi taksi tadi.
Beberapa jam saya tidur, saya menelpon lagi untuk menanyakan kabar. Ternyata masih tak ada jawaban.
Lalu saya pergi ke kantor polisi. Pertama di Pos Polisi Ragunan, saya diarahkan ke Polsek Pasar Minggu. Disana ternyata saya tak bisa melapor karena tempat kejadian tidak berada di wilayah Pasar Minggu (yahh..meneketehe, pikir saya, tapi sudahlah..). Lalu saya ke Polsek Jagakarsa.
Saya menceritakan kronologisnya dengan detail kepada Kepala Polisi Jagakarsa, bahkan sampai-sampai Bapak Polisi itu memerintahkan salah satu Sersan Polisinya untuk mengantar saya ke Pool taksi itu. FYI, itu adalah inisiatif dari Kepala Polisi langsung (bukan saya yang meminta) dan polisi itu tampil seperti kebanyakan anak muda karena ia tak pakai seragam dinas.
Lalu jadilah saya ke pool taksi itu ditemani polisi dan mencari satu per satu wajah sopir taksi itu dengan melihat foto-foto sopir disitu (hmm..tentu saja foto tidak selalu sama persis dengan wajah aslinya kan?)
Saya tak berani menunjuk orangnya, karena takut salah. Saya hanya menggambarkan ciri-cirinya.
Laptop saya memang tak ketemu, tapi setidaknya saya telah melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Saya bahkan memotret gambar-gambar sewaktu saya berada di pool taksi itu. Usaha yang saya lakukan sudah maksimal.
Sersan polisi yang tau bahwa saya bekerja di bidang telekomunikasi bahkan bertanya banyak kepada saya..dan apakah saya bisa membantu dia misalnya melacak nomor seseorang.
Kata saya, “Wah..kalau gitu saya jadi polisi dong!!”
Hahaha..
Alhamdulillah, kantor mengganti laptop saya yang hilang.
Data-data memang tidak terselamatkan (sebagian saya bisa mengambilnya dari email dan sebagian ngopy dari teman-teman).. ini memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya;
1. Pilihlah taksi yang bisa dipercaya.
2. Selalu ingat nomor taksi.
3. Simpel aja, jangan bawa tas 2. Supaya secapek dan seperti apapun kondisinya kita bisa tetap sigap.
Dan saya juga ingin berterima kasih kepada:
1. Manajer saya, admin, dan teman-teman kantor yang udah begitu baik dan perhatian.
2. Kepolisian Jagakarsa.
3. Mas Nova dan keluarga saya, selama hari itu kami terus kontak-kontakan lewat telpon dan sms.
Ini juga saya lagi “diingetin”. Semua ada hikmahnya kan..