Pada hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2008, kami; saya bersama 3 orang teman saya datang ke Sidang Konsensus Kelistrikan dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral di Gedung Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan. Kami menyebar, disitu saya berada di Komisi 2.
Ketika datang, saya langsung disodori 3 buah buku tebal, berjudul: KONSEP. Wah..berat ini, pikir saya.
Di situ peserta sidang terkategori menjadi 4, yaitu: Pemilik Usaha, Konsumen, Pemerintah, dan Ilmuwan. Saya, saat itu dalam kapasitas wakil dari PII, merupakan konsumen dari listrik.
Konsep sudah disusun oleh tim penyusun konsep. Sidang Komisi ini bertujuan untuk mengkritisi dan memberi masukan terhadap peraturan-peraturan yang diajukan kepada Menteri ESDM.
Saya sendiri berada di Komisi 2, yang membahas Industri Tenaga Listrik. Hal ini termasuk di dalamnya: tenaga kerja untuk industri tenaga listrik. Karena waktu yang terbatas, kami membahasnya secara cepat.
Apakah saya ikut ngomong dalam sidang ini?
Karena saya adalah minoritas, tentu suara saya jadi lebih diperhatikan. Saya tak ingin mengecewakan instansi yang saya wakili.
Saya hanya memberi masukan mengenai listrik yang sering mati, di daerah (istilahnya RING) yang rendah. Juga mengenai standarisasi MCB, sebagai penghubung antara tegangan dari sumber dan daya listrik ke konsumen.
Setelah sidang selesai dan kami masuk ke sidang utama, pada waktu jedanya justru saya ngobrol dengan salah satu produsen MCB. Beliau malah banyak bercerita dan berkeluh kesah mengenai MCB dan tantangannya di era global seperti sekarang. Di mana produk-produk import, seperti dari Cina masuk ke Indonesia.
Saya merasa beruntung bisa ikut dalam forum seperti ini, selama saya menjadi wakil dari PII saya sudah pernah beberapa kali mengikuti sidang Komisi. Menyadari bahwa banyak sekali PR-PR yang harus dituntaskan oleh pemerintah, dan kita sebagai pemuda Indonesia.
Selamat hari Sumpah Pemuda.
Salam hangat dan sukses Indonesiaku!