Buku ini karangan Abu Thalib al-Makki, seorang psikolog-muslim moderat. Dengan bahasa yang mudah dimengerti buku ini telah banyak membuat saya malu..
Betapa banyak amal yang sia-sia karena niat yang tak lurus.. betapa cintanya kita pada pujian, sanjungan, sesuatu tampak hebat sehingga betapa bencinya kita pada cemooh, hinaan, bahkan ketika itu berwujud kritik, sesuatu yang kita butuhkan untuk perbaikan diri?
Ikhlas..meniatkan segala perbuatan pada Allah, selalu sabar-ikhlas-ridha dengan segenap ketentuan Allah.. selalu berbahagia pada apapun yang Allah tetapkan untuk kita..
Ikhlas..menjauhi riya’, tidak berlebih-lebihan ..
Ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam berusaha, meniatkan segala usaha kepada Allah..sehingga ketika makhluk menilai gagal ataupun berhasil maka itu berada di jalan Allah.. tidak berbangga atas keberhasilan karena menyadari bahwa semua ada karena pertolongan Allah..tidak kecewa dan putus asa atas apa yang dinilai sebagai kegagalan karena segala ikhtiar ada di jalan Allah..sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan, Allah mengatakan kalimat ini sebanyak 2 kali.
Ikhlas membutuhkan kebesaran jiwa..niat yang lurus yang terus-menerus dibersihkan..
“Berinteraksilah dengan hati Anda,” tutue Syekh al-Makki, “sapu kotorannya dan sirami benih kekilauannya sehingga setiap perbuatan baik senantiasa memancar dari hati yang tulis”
Menurut saya, dalam pernikahan juga membutuhkan keikhlasan, ketika menghadapi apa yang disebut “manajemen ketidakcocokan” maka kita tau bahwa ibadah pernikahan memang terkadang tidak mudah, sebagaimana ibadah lain banyak pula ujiannya.. Semua kembali pada niat awal dari ibadah itu sendiri.
“Berakhlaklah kamu dengan akhlakKU. Sesungguhnya AKU Maha Sabar,” firman Allah kepada Nabi Daud AS.
Ketika kita tiap saat berharap Allah ridha pada kita, pada perbuatan kita..sudahkah kita ridha terhadap apa yang telah Allah tetapkan kepada kita?
Semoga kita senantiasa belajar menjadi hambaNYA yang ikhlas. Ada bahagia dibalik keikhlasan
With Love,
Arinova&Ilma