Sampai sekarang umur 25 tahun, saya tinggal di 3 kota. Solo, Yogya, dan Jakarta. Saya mencintai ketiga kota itu. Solo adalah rumah orang tua saya, tempat saya lahir, dan sahabat-sahabat masa kecil saya berada. Yogya adalah tempat saya kuliah S1. Mama mengatakan bahwa Yogya kota yang penuh kesan. Saya setuju. Saya selalu mencintai sudut-sudut kota Yogya yang eksotis. Walau dengan jujur saya merasa ada perih di sedikit sisi hati saya ketika saya menyelusuri jalanan di Yogya. Tapi itu akan pulih seiring waktu. Karena Yogya juga tempat tinggal calon mertua saya dan adik-adik saya.
Jakarta.
Tempat dimana saya bekerja. Saya bersyukur, walau pernah terpisah kota beberapa bulan, tapi saya ditemani seorang lelaki yang tegar dan tabah, seorang yang kuat, aktif, gembira dan jarang mengeluh dalam menghadapi hidup.
Di sini saya harus lebih sigap dan taktis. Saya beruntung karena bisa bekerja seperti yang saya bayangkan dulu pas kuliah. Melakukan hal-hal persis seperti yang saya bayangkan. Saya merasa banyak sekali memperoleh manfaat dalam masalah akses dan fasilitas.
Pekerjaan mudah didapat dan dikembangkan. Kumpul dengan beberapa orang yang sepikiran sudah bisa membentuk perusahaan. Tidak ada orang malas. Dan Jakarta memang tak memberi kesempatan bagi orang untuk malas.
Keberanian untuk bertemu dengan orang-orang yang dulu saya kagumi dari jauh meningkat. Orang-orang yang berprestasi menonjol di mata saya. Saya jadi tidak segan untuk merasa dekat dengan mereka.
Di sisi lain saya juga sering mendengarkan curhat seorang sopir kantor, office girl/boy, atau satpam. Saya sangat menghargai ketulusan, kerendahan hati di depan manusia dan Tuhan, dan sisi kemanusiaan mereka.
===
Saya suka lagu Padi, Jika Engkau Bersedih.
Ketika saya sedang sedih atau sisi melankolis saya sedang muncul dengan jelas, akhir-akhir ini lagu itu sering saya dengarkan. Dan menemani saya menikmati kesedihan. Hahaha..jujur saja, menikmati kesedihan itu indah :D.
Tidak, bukan berarti saya tak bahagia. Bagi saya bahagia itu ada di jiwa, sedang sedih ada di perasaan. Dalam sholat saya selalu berterima kasih atas apa yang Tuhan beri, yang terbaik telah Dia berikan pada hidup saya. Saya tau banyak orang yang kurang beruntung dan mau di posisi saya sekarang betapapun saya merasa sedih, sial, cemas atau kesal.
Lalu..Jakarta mengajarkan saya bahwa jika saya terlalu lama badmood atau tidak sigap maka ada orang-orang yang dirugikan. Ada orang-orang yang menunggu saya, ada jadwal yang harus dilaksanakan dengan tanggung jawab, ada janji yang harus ditepati, ada perbuatan yang harus sesuai dengan apa yang dikatakan, begitupun perkataan yang harus sesuai dengan perbuatan. Meski begitu yang penting saya enjoy saja!
Kata Bapak, itulah diri saya yang sebenarnya.
Saya mencintai hidup di kota-kota itu. Saya rasa setiap tempat memberikan kita pelajaran hidup jika kita bisa mengambil hikmahnya.
Lalu apa lagi yang hendak saya haturkan selain rasa terima kasih?