May 7

“Kok kerjanya kayak gitu sih? Kasian amat.”

“Gajimu berapa?”

Kerja buat saya tidak hanya untuk UANG. Kamu akan stres kalo terus berpikir begitu. Ada banyak arti yang ada di dalam sebuat kata “BEKERJA”.

Gaji saya sekarang ini harus disyukuri karena bisa dikatakan lebih dari cukup untuk ukuran saya. Tapi saya tak bisa kalau hanya kerja hanya untuk UANG. Kerja adalah penyatuan dirimu seluruhnya.

Masih ingat kan puisi Kahlil Gibran pada lagu “Hey” milik KLA Project? :)

Anehnya, kadang saya kecewa lalu ketika kerja saya senang lagi, kecewa saya sementara bisa hilang. Walau ketika saya menyelesaikan kerjaan kecewa saya ada lagi.

Manusia sering mengecewakan saya dan karenanya saya haruslah terus-menerus melonggarkan hati dan menjadi lebih tangguh. Tapi pekerjaan tak pernah mengecewakan saya, justru membuat saya puas, senang dan bangga pada diri saya sendiri.

Apr 13

Selamat datang shift malem.. Thanks buat Pak Ashadi yang sudah mengantar jemput.

Daripada bengong, ngantuk kalo nggak ada kerjaan..

Hmm..soal menjaga hati. Sebenernya siapa sih yang berkewajiban menjaga hati kita sendiri? Jawabannya ya jelas diri kita.

Tapi kalau ada orang yang peduli untuk menjaga hati kita..bukankah ini suatu bonus yang harus disyukuri? Sedang orang itu sebenarnya tidak bertanggung jawab terhadap kesehatan hati kita.

Hmmm…
Lalu bolehkah kita berharap orang lain menjaga hati kita? Sedang kita sendiri terkadang luput dari menjaga hati orang lain?

Mengapa manusia cenderung mudah sekali merasakan dampak dari orang lain yang tidak menjaga hatinya sedang dia sendiri mungkin saja tak berbuat serupa untuk orang lain?

Keadilan???

Mau mengharap keadilan?

Memang siapa yang paling benar dalam menilai manusia?

Saya jadi inget kejadian di suatu siang. Saya naik busway, duduk persis di belakang sopir. Kebetulan sopirnya cewek.

Saya sangat memperhatikan apa yang dia lakukan, emosinya, tingkah lakunya.. tanda-tanda peringatan apa yang dia lakukan dengan tepat dan apa yang dia lewatkan. Bagaimana ketika dia bosan seperti menyandarkan tangan atau makan permen.

Dan satu ciri khas dia; dia selalu menghentikan busway ketika ada orang lain menyeberang jalan. Dalam perjalanan Ragunan-Halimun itu, pertama ada bocah SMP menyeberang, kemudian sekeluarga, sekeluarga lagi, dan terakhir bapak-bapak kantoran. Saya memperhatikan bagaimana ekspresi orang-orang yang ”ditolong” menyeberang oleh si mbak sopir busway ini,
dan saya memperhatikan juga bagaimana mereka tersenyum, mengucapkan
terima kasih atau mengacungkan jempol kepada si mbak sopir busway ini.

Saya senang ketika si mbak sopir busway ini berhenti, untuk kemudian melancarkan orang yang akan menyeberang jalan.

Saya jadi berpikir..ketika setiap saat ada malaikat yang melihat perbuatan baik kita, seperti: menolong orang..
tentu malaikat ini akan senang sekali. Asumsinya manusia yang ciptaan Tuhan senang, tentu malaikat juga senang.

Begitupun dalam hal menjaga hati..kalau kita bisa lebih dalam menengok ke sana, dan menyapu kotoran-kotoran termasuk penyakit-penyakit disana tentu malaikat di dekat kita akan senang, jauh lebih senang daripada kita menuding orang lain tanpa kita sendiri melakukan “tengokan ke dalam” dulu, betapapun niat kita baik atau demi keadilan.

Hmmm..wallahu alam. Emang aku ini sapa..ngoceh kagak jelas!!! huhuhuhu

Semangat aja yah sampe pagi.. :)

Besok bobok trus njagong Ana.

Feb 15

Kita tak bisa memuaskan semua orang.
Ketika sebuah keputusan diambil, kita tidak bisa memberikan jaminan 100% bahwa tidak ada orang yang kecewa dengan kita.

Prinsip ini pernah saya diskusikan pertama kali dengan teman SMA saya. Lalu berlanjut dengan kasus tewasnya mantan PM Pakistan Benazir Bhutto akhir Desember lalu.

Teman kantor bertanya,
“Orang bener tuh banyak musuhnya ya. Apakah dia orang bener?”
Saya hanya menjawab bahwa saya tak tau apakah dia benar atau salah. Bukankah manusia tak berhak menghakimi? Saya hanya tau bahwa kita tak bisa memuaskan semua orang.

“Nabi aja banyak musuhnya.. Apalagi orang biasa yang nggak sesempurna Nabi,”
kata seorang teman menimpali.

Oh ya?
Terus terang saya benar-benar tidak suka dengan kata: musuh, musuhan, pertikaian. Walau kadang difitnah, disakiti, berbeda pendapat atau bagaimanapun saya tetaplah mencintai damai. Dan terkadang perjuangan untuk ikhlas menjadikan perjuangan seumur hidup yang tak henti-hentinya. Saya yakin, jika seorang manusia berkurang cintanya pada Tuhan maka ia akan susah untuk ikhlas.

Dan ketika ada yang bilang,
“Orang yang paling kuat itu orang yang tidak punya musuh.”

Oh ya? Bisakah manusia seperti itu apalagi ketika berhadapan dengan tujuan, keinginan, ego, cita-cita, harapan, impian, atau nafsu?

Benarkah bisa seperti itu?
Ataukah saya hanya mengangankan surga?

Bisakah manusia menjadi pencinta damai sekaligus punya tujuan untuk kebaikan orang banyak? Tidak ragu, tidak plin plan tapi juga tidak terlalu berani dan lalu kejam sehingga banyak musuhnya?

Benarkah bisa seperti itu?
Ataukah saya hanya mengangankan surga?
 
PS:
..dan lalu biarkan saja mengalir, sebagian pertanyaan tak harus terjawab sekarang, biarkan kehidupan yang menjawabnya..

Bagaimana menurutmu?

Jan 30

Sampai sekarang umur 25 tahun, saya tinggal di 3 kota. Solo, Yogya, dan Jakarta. Saya mencintai ketiga kota itu. Solo adalah rumah orang tua saya, tempat saya lahir, dan sahabat-sahabat masa kecil saya berada. Yogya adalah tempat saya kuliah S1. Mama mengatakan bahwa Yogya kota yang penuh kesan. Saya setuju. Saya selalu mencintai sudut-sudut kota Yogya yang eksotis. Walau dengan jujur saya merasa ada perih di sedikit sisi hati saya ketika saya menyelusuri jalanan di Yogya. Tapi itu akan pulih seiring waktu. Karena Yogya juga tempat tinggal calon mertua saya dan adik-adik saya.

Jakarta.
Tempat dimana saya bekerja. Saya bersyukur, walau pernah terpisah kota beberapa bulan, tapi saya ditemani seorang lelaki yang tegar dan tabah, seorang yang kuat, aktif, gembira dan jarang mengeluh dalam menghadapi hidup.

Di sini saya harus lebih sigap dan taktis. Saya beruntung karena bisa bekerja seperti yang saya bayangkan dulu pas kuliah. Melakukan hal-hal persis seperti yang saya bayangkan. Saya merasa banyak sekali memperoleh manfaat dalam masalah akses dan fasilitas.

Pekerjaan mudah didapat dan dikembangkan. Kumpul dengan beberapa orang yang sepikiran sudah bisa membentuk perusahaan. Tidak ada orang malas. Dan Jakarta memang tak memberi kesempatan bagi orang untuk malas.

Keberanian untuk bertemu dengan orang-orang yang dulu saya kagumi dari jauh meningkat. Orang-orang yang berprestasi menonjol di mata saya. Saya jadi tidak segan untuk merasa dekat dengan mereka.

Di sisi lain saya juga sering mendengarkan curhat seorang sopir kantor, office girl/boy, atau satpam. Saya sangat menghargai ketulusan, kerendahan hati di depan manusia dan Tuhan, dan sisi kemanusiaan mereka.

===

Saya suka lagu Padi, Jika Engkau Bersedih.
Ketika saya sedang sedih atau sisi melankolis saya sedang muncul dengan jelas, akhir-akhir ini lagu itu sering saya dengarkan. Dan menemani saya menikmati kesedihan. Hahaha..jujur saja, menikmati kesedihan itu indah :D.

Tidak, bukan berarti saya tak bahagia. Bagi saya bahagia itu ada di jiwa, sedang sedih ada di perasaan. Dalam sholat saya selalu berterima kasih atas apa yang Tuhan beri, yang terbaik telah Dia berikan pada hidup saya. Saya tau banyak orang yang kurang beruntung dan mau di posisi saya sekarang betapapun saya merasa sedih, sial, cemas atau kesal.

Lalu..Jakarta mengajarkan saya bahwa jika saya terlalu lama badmood atau tidak sigap maka ada orang-orang yang dirugikan.  Ada orang-orang yang menunggu saya, ada jadwal yang harus dilaksanakan dengan tanggung jawab, ada janji yang harus ditepati, ada perbuatan yang harus sesuai dengan apa yang dikatakan, begitupun perkataan yang harus sesuai dengan perbuatan. Meski begitu yang penting saya enjoy saja!

Kata Bapak, itulah diri saya yang sebenarnya.

Saya mencintai hidup di kota-kota itu. Saya rasa setiap tempat memberikan kita pelajaran hidup jika kita bisa mengambil hikmahnya.

Lalu apa lagi yang hendak saya haturkan selain rasa terima kasih?

Jan 15

Tuhan Maha Disiplin.
Tidak pernah terlambat dan tidak pernah terlalu cepat.

Saya yakini itu.
Tuhan Maha Tau yang dibutuhkan hambaNya.
Walau kadang yang dibutuhkan itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Ketika sebuah keinginan menjadi hasrat, itu artinya pengejawantahannya menjadi sesuatu yang lebih nyata. Manusia akan berusaha dan berdoa memohon kepadaNya agar diberi kelancaran dan kemudahan akan terkabulnya permohonan tersebut.

Jawabannya ada 3,
- Ya
- Tidak
- Nanti dulu

Untuk jawaban Ya, tidak perlu dibahas sudah jelas.
Untuk jawaban Tidak, karena ada sesuatu yang lebih baik yang telah disiapkan Tuhan untuk kita. Ini seringkali dipandang manusia sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Padahal nyatanya, dia memperoleh yang lebih baik, dengan atau tidak atau terlambat disadari.
Untuk jawaban Nanti dulu, karena jika kita menerimanya sekarang maka sesungguhnya kita belum siap dan jika kita memaksakan untuk menerima sekarang maka hasilnya malah akan lebih buruk. Dan juga ada sesuatu yang lebih mendesak yang ingin Tuhan berikan dan tunjukkan pada kita.

Suatu ketika, ketika hidup telah banyak menempa dan mendidik kita..kita akan mulai menemukan jawaban demi jawaban dari misteri yang dulu kita tidak tau atau malah kita menyangkalnya,

“Ooo..dulu itu begitu..karena begini..”

“Syukurlah dulu itu begitu.. karena ternyata saya memperoleh..”

Alangkah bahagianya orang yang menerima takdir -sesuatu yang sudah tidak bisa diubahnya- tanpa kecewa, tanpa menggerutu, tanpa pertanyaan tak puas.

Karena Tuhan Begitu Sayang pada kita.

PS:
Kamu boleh katakan saya “kenceng kekarepanne” karena memang begitulah watak saya sejak kecil. Namun tidak berarti saya tidak fleksiblel lho..

Dec 6

Kemarin selepas acara di kawasan Thamrin, saya naik busway dari Dukuh Atas menuju Ragunan. Saya lalu turun daerah Jatipadang. Saya melanjutkan perjalanan dengan taksi.

Supir taksi bercerita bahwa hari ini dia sudah melewati rute yang sama berkali-kali. Dia berkata kalau dengan logika, dia sudah tak sanggup menjalani pekerjaannya.

Ya, saya mengerti. Bagaimana seorang supir taksi bekerja dari shubuh sampai larut malam, menghadapi macetnya ibukota dan bosannya di dalam taksi seharian.

Saya bertanya, dia berangkat jam berapa dan selesai jam berapa. Katanya, jam 4 pagi sampai 12 malam. Namun, jam 9 sampai 10 malam, jika dia sudah hendak kembali ke poolnya, dia sudah tidak menerima penumpang lagi. Kebetulan kemarin saya naik taksi hampir jam setengah 9.

Saya jalani dengan iman Mbak.. Insya Allah kalo niatnya ibadah akan kuat..

Saya diam dan setuju.

Kerapkali kita mengeluh mengenai beban hidup. Misalnya, suami istri yang terpisah Medan-Thailand karena si suami sedang tugas di Thailand. Bukankah tugas sang suami ini juga untuk mencari nafkah bagi keluarganya? Dan mungkin ini juga penting buat karir suaminya. Kalau si suami memperoleh kemajuan di pekerjaannya bukankah si istri juga bangga?

Hmmm.. Kalau saja hidup tak untuk ibadah..
Betapa mudahnya kita kecewa, mengeluh atau merasa menderita karena sikap yang kurang menyenangkan, perilaku yang kurang pas, atau keadaan yang kurang sesuai harapan.

Saya memberikan supir taksi itu tip yang lebih banyak. Terima kasih telah mengingatkan saya :).

Oct 27

Bondan Winarno, dalam wawancaranya di The Jakarta Post berkata;

The Spice of Life is A Loving Heart

Benar juga. Segala bentuk ketidakbahagiaan di dunia ini bersumber dari penyakit hati. Sumber dari penyakit hati itu ada 2: disakiti atau menyakiti diri sendiri dengan iri dengki, kebencian, kemarahan, rasa takut, dan penyesalan.

Kita sendiri yang harus rajin-rajin membersihkan hati agar hati kita sehat.

Bagaimana caranya?
Positive thinking dalam hidup, ikhlas terhadap ketentuanNya, memaafkan diri sendiri dan orang lain, berbuat yang terbaik agar jangan sampai ada penyesalan, dan kedekatan dengan Illahi.

Tak bisa bayangkan, apabila kita jauh dariNya.. Betapa setiap hari kita bergantung padaNya.

Aku tidak bermaksud ceramah, karena aku sendiri juga bukan orang suci. Jujur saja, aku pernah minta maaf pada pasanganku, karena: masih mencampur yang hak dengan yang batil.

Seseorang bijak pernah berkata, cintai musuhmu karena dia menunjukkan kelemahanmu.

Bagiku, ya, mencintai tanpa membeda-bedakan, walau terkadang ego yang terluka menghalangi kita (ya, nggak munafik). Namun, di atas itu semua. Mencintai tetap pilihan yang terbaik. Mengapa? Karena setiap dan semua manusia itu KASIHAN, urusannya masih panjang, pertanggung jawabannya masih panjang.. Kalau membenci karena perbuatan dia di dunia ini, rasanya bukan hak kita, karena ada suatu masa lagi, dimana ada yang lebih dari itu semua.

Untuk itu.. semoga kita diberi keikhlasan dan kecintaan pada Illahi lebih dari apapun di dunia ini. Agar kebahagiaan di dunia dan di akhirat dapat kita raih. Agar kita bisa mencintai tanpa membedakan dan melayani demi kemanusiaan.

Wuih, tumben kata-kataku hebat banget.. Aku lagi berkumur kali ya..

Sep 17


Jogja yang eksotis menempaku selama 6 tahun..
Jogja yang bikin kangen..
Jogja hometownku kedua..
Menyisakan sedih di sudut hati..

Mungkin karena masa-masa itu adalah masa-masa unhappy sepanjang umurku..
Meski begitu, aku tak ingin menghindarinya..
Karena ke Jogja pula, Insya Allah kami akan berlebaran tiap tahun.

Terima kasih Jogja :)

Sep 8

Kupikir tak ada salahnya untuk menjadi ekspresif. Sejak kecil aku terbiasa seperti itu, kuakui itu memudahkan aku untuk melihat sesuatu lebih nyata, memaparkan ide-ide dengan jelas, dan berbuat yang terbaik pada tiap kondisi.

Tapi ketika itu sudah mengganggu kenyamanan orang lain, ketika ada yang berkata, “Kalau kamu seperti itu apa fungsiku?”

Dan pada akhirnya jawaban dari semuanya adalah: kita harus pandai-pandai menempatkan diri. Menjadi ekspresif bukan berarti boros emosi dan berperan seperti ratu drama :D.

Bukankah ekspresi berlebihan itu hanya ada di sinetron, novel atau film drama? Dan mungkin aku ini seorang gadis kecil yang bermimpi menjadi pemeran utama di filmku sendiri, yaitu: hidupku.

Hahahaha… dasar!! Be adult aja deh, malu sama umur :).

Next Entries »