Poetry

Sang Aktor dan Pertunjukkan

#1

Boneka tak pernah tahu kenapa ia dimainkan

Saat layar dibuka dan pementasan dimulai;

PANGGUNG BICARA

Inilah karya sutradara

#2

Aku hanyalah seorang pelaku

dari milyaran laku

dalam pertunjukkan ini

Akulah aku

yang tak tahu mengapa

aku dilakukan

==Solo, Juni 1999==

Bertanya??

terlalu jauh untuk diupayakan

terlalu kabur untuk dimengerti

ialah alam

kemana aku harus mencari

kebenaran hakiki

tentang hal yang tak kupahami

dan aku sendiri bertentangan dengannya

==Solo, Juli 1999==

Kemudian Hujan Turun Lagi

juni

jalan-jalan basah
perduku subur menengadah
tengah tahun ini akan usai, katamu di koridor itu
senyumku tangkap binar matamu

jadi pergi?
kau diam
selintas ragu menyeruak
namun aku tahu itu takkan lama

cahaya, begitulah sebutanmu

kurasa tak perlu ragu sedan itu
aktor yang bermain dengan tersenyum
begitulah kita?

dan atas yang kita perjuangkan
harapkan DIA tersenyum

cahaya, pikiran jernih, hati bersih

kita akan mampu mengatasinya, bisikku di telingamu
tak berapa lama langkah kaki kita mengalun
bagai selendang macapada dalam rengkuhan

dan kemudian hujan turun lagi
mencumbui kulitku tanpa basa-basi

ah, Subhanallah!

== Jogja, 28 Juni 2005 dalam segala kesibukan yang menyenangkan ini ==

Mengapa Berat Memaafkanmu?

Telah kusebarkan salam kepada ilalang,
kepada burung-burung, kepada embun pagi
dan akan terus kusebarkan

Telah kulukiskan bait-bait dalam lontaran sejarah,
dan akan terus kulukiskan

Di dalamnya kutemukan pelangi
Indah, warna-warni, tak bertepi

Kemudian ada suatu masa dimana kita bertemu

Adalah ego yang terluka
Adalah prasangka
dan hati ini pun terluka

Mengapa berat memaafkanmu?

Aku, kamu adalah sama
makhluk Allah, Sang Pencipta
jiwa inipun akan kembali
akan seperti debu-debu berterbangan ditiup angin

Lalu masihkah berat memaafkanmu?
:)

==2005-2006, kurasa aku sudah berhasil memaafkanmu==

Pos Kelima

Hai Serdadu!

Selamat kau sudah sampai ke pos kelima!

Lelahkah perjalananmu?
Singkaplah peluh, teguklah air, rebahkan badan
Kudengar kemarin kau hampir kalah
Namun ketangguhan hatimu ternyata masih sama
Seperti dirimu yang kukenal
Lencana dan penghargaan baru telah menanti
Pangkat dan derajat kan mengiringi
Lihatlah raut ibumu, berbinar penuh bangga
Haru akan anaknya yang gagah berani

Hai Serdadu!

Setelah cukup waktumu di pos kelima
Persiapkan dirimu melanjutkan perjuangan
Menghadang medan baru dan menaklukkan tantangan

Karena sukses tak pernah berupa suatu akhir
dan kegagalan tak pernah mematikan

Hai Serdadu!

Sampai jumpa di pos keenam!

==Solo, 23 Juni 2006==

Menjadi Dewasa

Aku : Tuhan, berilah hamba kedewasaan

Tuhan : Kedewasaan tidak diberikan cuma-cuma. Kamu sendiri yang harus mengambilnya dari setiap kejadian demi kejadian dalam hidupmu. Kemudian kamu pula yang akan menggunakaannya pada kejadian-kejadian lain. Kedewasaan itu proses, dan suatu saat kamu akan menyempurnakannya.

Aku : Terima kasih, Tuhan. Aku menyayangiMU.

==Yogya, 18 Juli 2006==

Tugu Selatan

Aku tak sadar kapan saatnya kita ada.
Di antara sepenggal musim yang telah lalu, himpitan batu karang, mimpi matahari menyetubuhi bulan, dan alur kehidupan yang membuat kita larut di dalamnya.

Kau menyapaku mesra sekali.
Kemudian kita mulai berbicara dalam bahasa yang frekuensinya harmonik.

Magnetmu terlalu kuat.
Terang saja aku ini terlalu tertarik, terlalu pasrah,
Saat kau berkata;
Perjuanganmu denganku saja, jangan dengan yang lain

Jawabannya pasti IYA, sayang.

Ada sesuatu dalam dirimu, entah apa itu,
yang menjadikan transformasi itu ada, nyata,
dan harus kita yang menyempurnakannya, sayang.

Tahukah kau,
Kau ini dokter jiwa yang hebat,
menyelusup sampai ke relung kalbu, membuka tiap tabir rahasia,
dan mengejawantahkan binar-binar yang bersemayam dalam diamku.

Dimulai dari Tugu Selatan,
perjumpaan-perjumpaan kita terus berlanjut,
rencana yang mengalir, aktivitas yang padat,
dan romantisme pancaroba yang manis.

Aku ingin jadi penjaga hatimu, cintai aku seutuhnya,
akan kubalas dengan hidupku
Pintamu pada sebuah malam di kotaku.

Dan jawabannya pasti IYA, sayang
***Semoga Allah menerangi langkah kita***

Kutulis saat menunggu kamu pada sebuah lobby,
==Yogya, 20 November 2006==

Surat Cinta untuk Calon Suamiku

Kukirimkan segenggam rindu dengan sampul sebentuk asa,
untukmu lelakiku,
Kemudian kudendangkan syair dalam khayalan saat aku bisa merawatmu,
menua dan mati bersamamu,

Aku ingin kau melihatku tersenyum setiap pagi,
Bergairah mengisi siang dengan kerja dan niat baik,
Beribadah dengan kerinduan seutuhnya pada RAB kita,
Kemudian menghangatkan setiap malam kita,

Suatu ketika, aku ingin kita bersantai di beranda,
sambil membicarakan anak-anak kita,
betapa mereka sudah beranjak besar,
betapa mirip dan mewarisi sifat-sifat kita,
tentu saja kita ingin mereka lebih baik dibanding kita,

Jangan pernah kau sangsikan,
siapapun lelaki yang ada di hidupku tak akan pernah sebanding dengan suamiku,
Jangan pernah terlintas kau tak bahagiakan aku,
karena sungguh aku bersyukur memilikimu
Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu
==Jakarta, 8 Maret 2007==

Semoga kamu diberi kesabaran atas apa yang kamu miliki sekarang, jagalah jangan sampai hilang lagi.
(Arinova Gita Utama, 10 Oktober 2007)

Ketika Kesedihanku Berkawan dengan Pemahaman

Ada sesak kurasa di dadaku..
Pada seselip langkah..
Pada sejeda tindakan..
Ah, aku memang harus selalu berhati-hati..

Ada banyak kesusahan dalam keseharianku..
Kau tak pernah mengerti jika kau bukan belahan jiwaku..
Kau selalu berkata aku orang yang yang beruntung..
Kau telah mengingatku sebagai orang yang bahagia..

Ya, aku berbahagia..
Namun aku tak selalu senang..
Dan bahagia bukan sekedar senang..
Bahagia melebihi emosi, bahagia ada di jiwa..

Ketika kesedihanku berkawan dengan pemahaman..
Apakah hanya dengan cara itu aku paham?
Ataukah aku ini terlalu bebal sehingga harus sedih berulang-ulang..
untuk mendapatkan satu PEMAHAMAN.

Point Square
===Jakarta, 23 Oktober 2008===