Ilma

Menggapai Cinta ALLAH dan Rasulullah

Tentang Emosi

September 20, 2018 Inspirasi 0

Hati-hati dengan emosimu, kendalikanlah dan jangan biarkan ia mengendalikanmu. Bertahun-tahun telah hidup dengan insomnia dan anxietas, membuat saya terus mencari, belajar, dan berlatih bagaimana sikap terbaik menghadapi ini. Orang yang dekat dengan saya dan menyayangi saya memberikan nasihat tentang bad memories dan bagaimana replace memory dengan yang baik-baik, agar kita menjadi lebih positif.

Namun, semakin saya berusaha positif semakin justru ada penolakan. Ya, dan penolakan ini terkadang disalahpahami sebagai agresivitas, tendensius bahkan menyerang oleh orang yang kurang memahami psikologi manusia. Ini memang muncul di waktu-waktu tertentu, ketika jiwa sudah lelah menahan beban. Di luar itu, justru toleransi (bahkan terlalu toleransi) yang dominan. Sampai first impression saya sering disangka orang Phlegmatis yang damai.

Maka, setelah saya membaca dan berguru ke beberapa orang; proses PENERIMAAN adalah jawabannya. Proses ini cukup panjang.

Contoh kasus saja: seorang anak yang mencari figur ayah pada pasangannya akan cenderung menuntut lebih, sayangnya ini tidak bisa digantikan oleh yang lain selain ayahnya. Pasangan adalah pasangan, ayah adalah ayah. Maka solusinya adalah dengan MEMBERIKAN perhatian dan kasih sayang pada ayah dahulu. Jangan berhitung soal keadilan di dunia ini (apalagi jika Anda masih kental budaya tertentu yang harus dijunjung). Jika kita memiliki core value kedamaian, kita harus peka dan lebih banyak memberi serta memaafkan. Jangan juga mengasihani diri, ingatlah nasib orang-orang yang jauh lebih tidak diakui haknya.

Kembali kepada proses penerimaan, saya menjadi lebih sadar terhadap berbagai emosi yang muncul akan ketidaknyamanan. Ini bukan berarti saya ingin dimanja atau moody, saya masih terus belajar menempa diri menjadi lebih baik dan bersikap lebih kondusif.

Bahkan, jika memang menyakitkan, saya tidak lagi terlalu menyalahkan sifat-sifat buruk saya yang muncul karena emosi negatif. Ini seperti: pemarah, dendam, malas, susah move on, suka menunda, dll. Kepribadian kita (misalnya: pendiam atau ceria & blak-blakan) yang menjadi dasar diri kita, tidak perlu diubah. Jangan salah tangkap dan salah fokus, hanya sifat buruk yang perlu diubah. Berusaha mengubah kepribadian sebagai dampak tidak suka pada diri sendiri (bisa karena kurang dukungan atau menghukum diri terlalu keras) berbahaya dan bisa mengakibatkan gangguan mental.

Begitu pun, jika ada yang menjelek-jelekkan, saya tidak mau terlalu terbawa perasaan (baper) lagi, saya akan menerimanya. Mungkin orang tersebut tidak mengenal saya (karena saya terlalu jaim, dll) atau saya kurang memberikan yang terbaik.

Perselisihan terjadi karena perbedaan sudut pandang dan masing-masing kukuh dengan egonya. Maka, jika kita mau melebarkan pandangan dan sedikit menambah kesabaran kita, itu akan diminimalisir.

Tidak ada kata terlalu baik, karena HIDUP INI TIDAK MAU BERHUTANG. Santai saja, yang ngomongin kita jelek suatu saat akan diomongi jelek pula. Yang suka cari-cari kesalahan kita pakai kaca pembesar, suatu ketika akan dibegitukan juga oleh orang lain. Yang tidak suka ghibah, nanti di akhirat akan ditutupi aib-aibnya. Yang memaafkan pada yang tidak baik padanya, kelak akan dimaafkan Allah di akhirat.

Nikmati apapun itu, terima bahkan syukuri ketidaknyamanan. Bisa jadi dosa-dosa kita sedang digugurkan dan derajat kita di sisi Allah sedang dinaikkan. Allah menempatkan kita dan memberikan takdir pada kita pastilah sudah yang terbaik, hanya akal kita yang sering kurang paham pada keputusan Allah. Maka, kuatkanlah iman di dunia yang hanya sementara ini.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9-10)

Wallahu a’lam bishawab.

Palembang, 21 September 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *