Energi Memberi di Hati Seluas Samudra
Dalam kehidupan kita bertemu dengan berbagai pengalaman; sebagian membuat bahagia dan sebagian memberi pelajaran.
Tidak perlu memaksa pintu yang sejak awal ditutup. Ada yang gengsi jika disamakan. Kemudian terus-menerus mengetes/menguji seseorang. Sebetulnya di dalam dirinya ada luka batin: merasa tidak pantas/layak dengan menerima kebaikan, sehingga mempertanyakan dengan cara seperti itu.
Ada yang baper jika dibedakan. Pulihkan rasa tidak layak. Kita layak menerima kebaikan. Di Bali ini saya sangat bersyukur, pindah dari 2019 kemudian stabilisasi tempat kerja dan tempat tinggal, tetiba didatangkan guru kehidupan. Dari Om Ge 2020, lalu Om Yudha 2 tahun kemudian.
Tentu saja banyak guru-guru nonformal lain, seperti Ustadz yang kajiannya sering saya ikuti. Belakangan lebih suka yang ke arah spiritualitas seperti Dr. Fahruddin Faiz. Sebelum Dr. Fahruddin Faiz banyak. Sesudahnya pun banyak motivator atau healer luar negeri yang saya ikuti, seperti Dr. Joe Dispenza.
Untuk guru agama Habib Ali Zaenal Abidin atau Gus Baha masih yang terfavorit.
Saya perlu menetralisir rasa tidak nyaman ketika bertemu langsung, sejak covid kajian di masjid dibatasi namun kini sudah normal. Sehingga jika sikon sudah aman, hadir ke masjid merupakan suatu berkah dengan keutamaannya yang berbeda.
Kembali pada: hati seluas samudra. Setiap orang boleh memiliki seleranya masing-masing, kemudian penilaian dan kriterianya masing-masing. Bebas, asalkan tidak jahat (merugikan dan menyakiti) diri dan sesama.
Kesadaran itu yang utama. Juga miliki penilaian obyektif. Bukan penuntut pada orang lain, pembela pada diri sendiri. Akui saja dengan jujur, tanpa manipulasi.
Apa yang memang untuk kita akan untuk kita. Jadi jika ada yang membuat kecewa; serahkan pada Allah dan pada alam. Pun alam itu paling jujur. Terkadang manusia tidak bisa tertolong jika tidak sadar menolong dirinya, terkadang harus melewati pelajaran demi pelajaran.
Semoga Allah membimbing kita. Aamiin.