Prinsip Tuma’ninah dan Step Perlahan untuk Maju Pesat
Saat saya sedang berdiskusi dengan AI, termasuk mempelajari energi kehidupan diri saya; saya menemukan saran menarik: orang ini butuh perlahan, untuk maju pesat.
Itu pula yang saya katakan pada teman kecil saya; satu per satu, bukan instan ngegas bersamaan. Subhanallah.
Aspek hidup serta realita dunia yang membutuhkan skill generalis, membuat kita menjadi multitasking. Pun perjalanan karier yang tadinya engineer, kemudian penulis, dan pengusaha termasuk asesor membutuhkan skill yang meluas.
Jiwa saya adalah spesialis dengan tugas generalis, ketika saya sulit menavigasi untuk memusatkan perhatian pada yang faktual perlu diurus, itu karena proyeksi dari berbagai aspek yang dicampur, bukan satu per satu.
Sehingga, minggu ini saya banyak merenung dan diskusi. Itu tidak apa-apa. Termasuk saya banyak ngamus (mencari referensi) mengenai urusan. Kemudian mengerucutkan hasil dari apa yang saya cari itu. Dorongan saya untuk belajar semakin kuat, buku-buku yang tadinya saya pinggirkan jadi saya lihat kembali. Masya Allah.
Hal-hal yang bisa disyukuri:
- Quality time (keluarga)
- Menulis artikel bisnis di LinkedIn (usaha)
- Ngamus rencana ke depan (usaha)
- Ngamus Latihati 15 Jan 2025 (belajar nonformal)
- Bertemu ketua Katetigama/LSP TDI/Floatway sekeluarga 16 Jan 2026 (usaha)
WEEK 3 2026
Senin-Minggu, 12-18 Januari 2026
Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban (فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) (Artinya: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?).