Desensitisasi

Menggapai Cinta ALLAH dan Rasulullah

Desensitisasi

November 19, 2025 Bantuan 1

DESENSITISASI:
REFLEKSI RESPONS TERANCAM DAN SOLUSI MELATIH KETERAMPILAN

Tulisan ini menambah apa yang sudah saya post di blog mengenai bagaimana respons terhadap stimulus. Setelah ngobrol dengan Latihati, kita perlu menambah skill dalam menyikapi stimulus, yaitu: desentisasi, alias mengurangi respons emosional berupa kecemasan atau bisa juga ketakutan.

Tugas yang menuntut kita mengambil keputusan, sebetulnya perlu kita pahami benar. Apa cara terbaik untuk melakukannya? Belum tentu pengalaman sebelumnya atau hasil kebiasaan menjadi tolak ukur keberhasilan. Jika tugas itu berbeda tentu kita menghandlenya dengan cara yang berbeda.

Di dunia bisnis, terampil dalam respon ini sangat penting. Hati-hati dengan kecenderungan impulsif yang ceroboh pun dengan kehilangan momentum karena ketidakberanian.

Mengontrol ketakutan butuh latihan. Muhammad Ali berkata, “Fear is the greatest obstacle of learning. But fear is your best friend. Fear is like fire.”

Untuk itu, dibutuhkan kejujuran melihat apa yang perlu kita pelajari pun lepaskan.

Mencapai tujuan dan menyelamatkan hidup butuh mengontrol emosi.

Sebagai manusia yang apa-adanya tidak ada yang 100% baik pun 100% buruk, kita semua memiliki spektrum. Maka, yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan atau memperbaiki yang perlu dan menjaga apa yang sudah baik. Termasuk menghargai apa yang sudah kita perjuangkan selama ini. Ketika kita sudah beres di dalam (perlu innerwork atau pekerjaan batin) maka perilaku kita juga akan mencerminkan kesadaran. Desentisasi menjadi cara untuk tidak terlalu cemas karena terancam, tentu saja ini merupakan hasil dari kepercayaan diri yang telah dibangun.

 

One Response

  1. […] Self sabotage termasuk karena over sensitif yang menanamkan ke hidup sendiri, karena kurang mencintai diri […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *